ILMU KIMIA DALAM AL-QURAN
Afzalur Rahman,2007. Ensiklopediana Ilmu Dalam
Al-Qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah Dalam Al-Qur’an.
Cetakan II (Penerbit Mizania PT Mizan Pustaka: Bandung) Bab 26 hal.
356-361
Ilmu
Kimia juga mendapatkan perhatian dan dorongan dari Al-Qur’an untuk
dikembangkan. Manusia dan seluruh lingkungan hidupnya terbentuk dari
elemen-elemen dan subtansi-subtansi yang tergabung menjadi sebuah ikatan
kimia menurut hukum Allah. Manusia sendiri tercipta dari tanah liat
kemungkinan melalui sebuah proses kimia interaktif antara berbagai unsur
dalam tanah yang bekerja menurut hukum-hukum Allah melalui proses
perubahan dan kombinsi tertentu. Penciptaan langit dan bumi dalam enam
“periode” dan penciptaan alam semesta dari air juga terjadi menurut
hukum kombinasi dan perubahan yang diciptakan Allah Swt. Ayat-ayat
Al-Qur’an yang menuturkan bagaimana Tuhan menciptakan langit, bumi,
manusia, dan sebagainya, memberikan petunjuk yang kuat kepada para
ilmuwan tentang membuat subtansi baru dengan menggabungkan berbagai
unsur dan tentang kemungkinan mempelajari rekasi kimia dari penggabungan
unsure-unsur itu dengan berbagai proporsinya. Ayat berikut mengemukakan
kekuatan “pewarnaan” yang dilakukan Tuhan dan memberikan inspirasi
kepada para ilmuwan untuk melakukan proses kimiawi dengan mencampurkan
berbagai unsur kimia dengan proporsi tertentu untuk membuat hal yang
mirip dengan itu.
Sibghah Allah dan siapakah yang lebih baik
sibghah-Nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah (Q.S
Al-Baqarah[2]:138)
Kemudian, perhatikan pula bagaimana proses penciptaan
manusia yang menjadi titik sentral studi para teolog, filsuf, dan
ilmuwan berabad-abad lamanya:
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah
itu ditentukan ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang
ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia
sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
berbangkit itu). (Q.S Al-An’am [6]: 2)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
(Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk (Q.S Al-Hijr [15]: 26)
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian
dari air mani, kemudian Dia menjdaikan kamu berpasangan (laki-laki dan
perempuan. Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak
(pula) melahirkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak
dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikuarangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesunggguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah (Q.S Al-Fathir
[35]:11)
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia
yang berkembangbiak (Q.S Al-Rum [30]:20)
Ayat-ayat tersebut mengundang perhatian kea rah
proses penciptaan manusia terutama berhubungan dengan telaah tentang
terjadinya reaksi kimiawi dari subtansi-subtansi yang menjadi bahan baku
penciptaannya dan pengaruhnya terhadap perilakunya sebagai makhluk
hidup.
Penciptaan alam semesta dan semua benda yang ada di dalamnya diuraikan dalam ayat berikut:
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih
merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:”Datanglah
kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.”
Keduanya menjawab:”Kami datang dengan suka hati.” Maka Dia menjadikannya
tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit
urusan-Nya. Dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang
cemerlang dan Kami menjadikannya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah
ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (Q.S Fushshilat [41]:
11-12)
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tiada juga
beriman ?(Q.S Al-Anbiya’ [21]: 30)
Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, dan adalah ‘arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah
di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada
penduduk Makkah):”Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati.”
Niscaya orang-orang kafir itu akan berkata:’ini tidak lain adalah sihir
yang nyata.’”(Q.S Hud [11]: 7)
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Q.S Al-Dzariyat [51]: 49)
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan
dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (Q.S Ya Sin
[36]: 36)
Ayat-ayat diatas dan ayat-ayat lain yang serupa dalam
Al-Qur’an mengajak manusia memikirkan dan merenungkan proses penciptaan
yang dilakukan Allah dengan berbagai konteksnya dan mendorong manusia
mengadakan eksperimen tentang interaksi antarberbagai subtansi yang
berbeda, serta mengadakan studi tentang perubahan-perubahan kimiawi yang
memunculkan subtansi baru dan seterusnya.
Bagaimana reaksi kimiawi benda-benda yang tidak
bernyawa dapat menghasilkan makhluk hidup yang bernama manusia?
Komponen-komponen apa saja yang terdapat dalam tanah menjadi bahan dasar
penciptaan manusia? Dan, reaksi dari unsur-unsur apa saja yang
menghasilkan makhluk yang mulia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini dan
pertanyaan-pertanyaan lainnya yang serupa dengan itu menggerakkan minat
para ilmuwan berabad-abad lamanya untuk mengadakan eksperimen-eksperimen
yang mencoba mengungkap rahasia bagaimana makhluk hidup terbentuk dari
berbagai unsur. Ayat-ayat berikut memberikan inspirasi lebih jauh untuk
melakukan penelitian lebih lanjut:
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir
tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Dia mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki
sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?
(Q.S Al-An’am [6]: 95)
Katakanlah:”Siapakah yang member rezeki kepadamu
dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran
dan penglihatan, dan siapakah yang yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang
mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab:”Allah.” Maka
katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”(Q.S yunus [10]:
31)
Ayat-ayat seperti itu tentu saja menunjuk pada
kemungkinan ditemukannya subtansi yang lebih unggul dan lebih bermanfaat
lewat percampuran berbagai unsur, dan bahkan kemungkinan menemukan
sebuah bentuk kehidupan yang merupakan hasil interaksi kimiawi dari
beberapa komponen yang beranekaragam. Singkatnya, ayat-ayat tersebut
jelas-jelas menggugah manusia agar melakukan penelitian lebih jauh dan
lebih mendalam mengenai persoalan ini.
Al-Qur’an merujuk fenomena-fenomena alamiah yang
dapat dijumpai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat ini boleh
jadi telah menarik perhatian manusia untuk mempelajari berbagai elemen
dan reaksi kimiawi yang ada di dalamnya:
… padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang
mengalir sungai-sungai daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang
terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada
yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya ada
yang meluncur jatuh, … (Q.S Al-Baqarah [2]: 74)
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh
subur dengan seizing Allah; dan tanah yang tidak subur,
tanaman-tanamanya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi
tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur (Q.S
Al-A’raf [7]: 58)
Aspek kimia madu merupakan petunjuk abadi bagi para
ilmuwan untuk mengungkap keajaiban Tuhan yang mengubah struktur, sifat,
dan kegunaan berbagai unsur kimiawi dalam kombinasi yang berbeda-beda.
Dalam hal ini, Allah berfirman:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah:”Buatlah
sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat yang
dibuat manusia.” Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan
dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut
lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di
dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya yang
pada demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi
orang-orang yang memikirkan. (Q.S Al-Nahl [16]: 68-69)
Bagi ahli kimia, ini merupakan indikasi yang jelas
bahwa campuran unsur-unsur tertentu bisa menghasilkan unsur yang baru
sama sekali tidak berhubungan dengan unsur-unsur asalnya dalam hal
sifat, zat, atau dampaknya.
Sebagaimana telah dikemukan pada urain sebelumnya,
Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan atau kitab kimia dalam
pengertian harfiahnya. Akan tetapi, Al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi
umat manusia. Dalam berbagai konteks, Al-Qur’an memberikan petunjuk
mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dan sekaligus
menjadi gudang ilmu pengetahuan serta menjadi pintu pembuka untuk
melakukan penelitian tentang berbagai aspek kehidupan manusia. Dengan
demikian, dalam Al-Qur’an di sana-sini kita temukan ayat-ayat yang
mendorong pembacanya untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam
berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kimia.
Untuk itu, tidak mengherankan jika para ilmuwan
Muslim memperoleh inspirasi yang amat besar dari Al-Qur’an untuk
mengembangkan ilmu ini. Misalnya, dengan berbagai konteks yang berbeda
kita temukan dalam Al-Qur’an tentang emas dan perak sebagai logam mulia
(Q.S Ali ‘Imran [3]: 14 dan Al-Taubah [9]: 34), sebagai barang perhiasan
yang mewah (Q.S Al-Zukhruf [43]: 33-53), dan sebagai tanda karunia
Allah yang akan diberikan kepada para penghuni surga (Q.S Al-Hajj [22]:
23 dan Al-Kahfi [18]: 31).
Besi disebut-sebut sebagai logam yang mengandung
banyak manfaat (Q.S Al-Hadid [57]: 25), sebagai contoh benda yang paling
keras (Q.S Al-Isra’ [17]: 51), sebagai zat yang berwarna merah jika
dipanaskan sehingga dapat digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan
(Q.S Al-Kahfi [18]: 96), menjadi bahan pokok untuk membuat barang-barang
lainnya seperti baju besi (baju perang, Q.S Saba’ [34]: 10-11), dan
menjadi alat penyiksaan di neraka (Q.S Al-Hajj [22]: 21).
Demikian pula dengan timah dan tembaga yang disebut
Al-Qur’an sebagai bahan pelengkap konstruksi sebuah bangunan (Q.S
Al-Kahfi [18]: 96) serta ter yang dalam Surah Ibrahim [14]: 50)
disebutkan sebagai pakaian penghuni neraka.
Al-Qur’an juga menyebutkan adanya sebuah benda yang
mungkin bisa disebut sebagai “atom” dan benda lain yang lebih kecil dari
atom (Q.S Al-Zalzalah [99]: 7-8) dalam kaitannya dengan nilai perbuatan
manusia. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari Tuhan, apakah itu
lebih besar atau lebih kecil daripada atom (Q.S Saba’[34]:22). Dalam
Al-Qur’an, ditemukan pula keterangan tentang reaksi-reaksi exothermal dan endothermal dalam
hubungannya dengan pemanasan benda tertentu yang dikemukakan dalam
konteks hukum neraka (Q.S Al-Kahfi [18]: 29; Al-Hajj [22]: 21 dan
Ibrahim [14]: 50; dalam hubungannya dengan konstruksi bangunan (Q.S
Al-Kahfi [18]: 96; deskripsi hari kebangkitan (Q.S Al-Ma’arij [70]:
8-9); serta makanan penghuni neraka (Q.S Al-Dukhan [44]: 45-46).
Ayat-ayat diatas dan ayat-ayat lain yang serupa
dengan itu menjadi inspirasi besar bagi para ilmuwan Muslim untuk
mengembangkan ilmu kimia. Bahkan istilah “kimia” (alkimiya) diberikan
pertama kali oleh orang arab. Diantara nama-nama sarjana Muslim yang
tercatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai ahli kimia antara lain:
Jabir ibn Hayyan, Jabir Al-Jusi, Utarid ibn Muhammad Al-hasib, ‘Utsman
ibn Swayed,Dzu Al-Nun Al-Mishriy, Muhammad Ibn Zakariyya Al-Razi,
Al-Farabi, Ibn Sina, ‘Abd Al-Hakim Muhammad Al-Kathi, Abu Maslamah
Al-Majriti, ‘Abd Qasim Al-Qusyairy, ‘Abd Al-Hasan Al-Jayyani, Syams
al-Din Al-Buni, Muhammad ibn Al-Hajji Al-Tilmisani, ‘Abd Al-Qasim
Al-Iraqi, Izz Al-Din Aidamur Al-Jildaki dan ‘Ali Bek Al-Izniqi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar