Kehidupan Seks Di Kalangan Remaja Saat Ini
“Tren muda-mudi saat ini berhubungan seksual diluar pernikahan, semakin
muda dan dini, jalan satu-satunya yakni meningkatkan pengetahuan yang
cukup untuk ilmu reproduksi, agar nantinya remaja mengetahui dan paham
bagaimana resiko pernikahan dini,” ujar Plt. Kepala BKKBN, DR. Sudibyo
Alimoeso, MA dalam diskusi dengan Ketua PBNU, KH Said Agil tentang
‘Pandangan Tokoh Agama/Tokoh Masyarakat, Pesantren Terhadap Kehidupan
Sex Di kalangan Remaja’ di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa, 12
Februari 2013. (www.okezone.com)
Menurut data BKKBN, sejumlah 20,9 persen remaja putri hamil diluar
nikah. Ini jelas merupakan angka yang cukup tinggi, yang mana secara
hitung-hitungan berarti diantara 5 remaja putri terdapat 1 orang yang
hamil diluar nikah, atau 4 berbanding 1.
Kesalahan bisa saja dialamatkan ke para orangtua yang sangat sibuk
sehingga tak punya waktu memberi perhatian dan pengawasan terhadap
remaja putrinya. Namun sebenarnya terdapat beberapa faktor lain yang
menjadi pemicu hubungan sex bebas pra nikah, misalnya: Lingkungan
pergaulan baik di rumah, diluar rumah dan sekolah.
Kemudian pengaruh dari tontonan yang tidak edukatif yang kemudian
dijadikan tuntunan. Tak sedikit tontonan media massa audio visual;
televisi, yang menayangkan tontonan berupa sinetron remaja yang tak
mendidik yang kemudian ditiru atau minimal melakukan coba-coba yang
akhirnya keterusan.
Selain itu kita tak memungkiri keberadaan peralatan (gadget) canggih yang fungsinya tidak saja untuk berkomunikasi, tapi juga mengakses situs-situs porno lalu kemudian menyimpannya untuk dijadikan tontonan.
Tudingan terhadap situs-situs sosial media seperti Facebook, Twitter, dan sejenisnya, juga menjadi sah saja kita lakukan, karena sudah bukan rahasia bila halaman sosial media itu juga digunakan untuk menayangkan pronografi dan pornoaksi.
Selain itu kita tak memungkiri keberadaan peralatan (gadget) canggih yang fungsinya tidak saja untuk berkomunikasi, tapi juga mengakses situs-situs porno lalu kemudian menyimpannya untuk dijadikan tontonan.
Tudingan terhadap situs-situs sosial media seperti Facebook, Twitter, dan sejenisnya, juga menjadi sah saja kita lakukan, karena sudah bukan rahasia bila halaman sosial media itu juga digunakan untuk menayangkan pronografi dan pornoaksi.
Jika hari ini terdapat data 20,9 persen remaja putri hamil diluar nikah,
tak menutup kemungkinan tahun-tahun ke depannya angka data itu terus
meningkat.
Perilaku Seks Remaja yang Bikin Merinding
Survey terhadap kehidupan sex remaja usia 15-25 tahun yang dilakukan
oleh Darmendra Kumar Tiagi Indonesia, sungguh menunjukkan hasil yang
sangat menyesakkan dada. Bagaimana tidak, dari 663 responden ada 462
yang mengaku pernah melakukan hubungan sex. Kalau dipersentasekan sudah
mendekati 70 %.Kemudian yang membuat merinding dan dada semakin sesak
adalah pernyataan mereka yang mengatakan bahwa yang mereka takutkan
dalam melakukan hubungan sex adalah takut hamil, bukan takut melanggar
norma agama atau takut berdosa.
Dapat dibayangkan, kalau yang ditakutkan hanyalah takut hamil tentu
ketakutan ini sangat mudah disiasati. Alat “anti hamil” secara mudah
bisa dibeli di warung-warung dengan harga sangat murah. Dengan uang Rp.
5000,- remaja kita sudah bisa membeli 3 buah kondom dengan kualitas
cukup ampuh untuk mencegah hamil. Lalu, tidak akan ada lagi rasa takut
bagi remaja untuk melakukan hubungan sex diluar nikah.
Bagaimana dengan dosa? Ya, sudah sejak lama masalah dosa dikesampingkan.
Umumnya kita sudah tidak takut lagi dengan ancaman-ancaman yang
diyakini dalam agama itu. Padahal dalam agama apapun, masalah sex diatur
secara ketat.
Penyimpangan-penyimpangan atau pelanggaran terhadap aturan ini diancam dengan sanksi yang cukup berat.
Khusus dalam agama Islam, hubungan sex hanya dibolehkan oleh pasangan
suami isteri yang sah, selain dari itu seperti hubungan sex diluar
pernikahan dikatagorikan perbuatan zina.
Para pelaku zina dikatagorikan sebagai pelaku dosa besar yang diancam dengan siksa yang berat.
Bahkan sanksi bagi pelaku zina tidak hanya terbatas pada ancaman siksa
di alam akherat, ancaman hukumannya sudah ditetapkan dan diberlakukan di
dunia.
Untuk pelaku zina yang masih berstatus perjaka dan gadis mereka
dikenakan sanksi hukuman cambuk sebanyak seratus kali ditambah
pengasingan dari kehidupan sosial asalnya selama 2 dua tahun.
Sedangkan untuk pelaku zina yang sudah pernah menikah sebelumnya,
artinya ia melakukan perselingkuhan dengan pihak ketiga, maka ia diancam
dengan hukuman yang lebih berat, dihukum rajam (dilempari dengan batu
hingga mati).
Mungkin ada sesuatu yang salah dalam mempelajari agama, atau dalam
menanamkan kesadaran beragama. Sehingga dalam banyak kasus pelanggaran
terhadap norma agama, para pelakunya tidak pernah merasa bersalah
apalagi takut berdosa. Tentunya termasuk dengan para remaja kita yang
akhirnya secara sadar sengaja melakukan hubungan sex diluar nikah tanpa
ada rasa bersalah atau takut berdosa.
Remaja antara Handphone dan Kondom
Dudung Koswara, M.Pd
Membaca
Radar Sukabumi (4/12/2011) dengan judul, “Libur Sekolah Kondom Laku
Keras.” Dijelaskan diantaranya siswa SMP dan SMA di Ciamis menjadi
pelanggan kondom di Apotek Rahayu jalan Ampera No 37. Berita ini membuat
penulis terdorong untuk menulis kembali seputar remaja kita. Setiap
zaman akan bersahabat atau memangsa anak zamannya. Fenomena kenakalan
remaja makin hari makin meningkat. Tawuran tak pernah berhenti,
vandalism terus bertambah, narkoba mengancam, sex bebas membumi
tersembunyi, aborsi masih terjadi, membolos sekolah membudaya, kabur
dari rumah dan tak mau belajar menjadi bagian tak terpisahkan dari
remaja kita. Zaman makin aneh dan serba mengejutkan.
Pada
tulisan kali ini penulis akan lebih mengkaji tentang sex bebas remaja
kita. Mengapa semakin meningkat? Dimana fungsi pendidikan keluarga,
sekolah, pendidikan agama dan budi pekerti? Bagi remaja yang nakal,
semua pola pendidikan sepertinya mandul dan tak membekas. Siapa yang
salah? Yang salah adalah kita, para orang tua. Bila pendidikan orang tua
tidak benar-benar maksimal maka resikonya akan sangat berat. Akan
banyak lahir generasi “impoten” dalam menghadapi era persaingan padahal
seharusnya menjadi generasi kompeten. Mampu bersaing, adaptif dan
mandiri.
Generasi
impoten ini, telah layu sebelum berkembang. Potensinya menjadi
bermasalah karena lingkungan dan pergaulan yang kian bebas. Orang tua
yang sibuk mencari nafkah, telah melenyapkan waktu berharga bagi remaja
untuk meyerap keteladanan orang tua. Lingkungan dan teman sebaya menjadi
orang tua baru yang mensponsori hidup bebas serta menjanjikan sensasi.
Dari sekian sensasi yang telah menjeratnya, diantaranya adalah sex
bebas. Mulai dari ingin tahu, kemudian berkembang menjadi fantasi,
selanjutnya menjadi obsesi, mencoba atraksi dan kemudian menjadi adiksi.
Hasil survey Komnas Anak tahun 2007 di 12 provinsi, dari 4500 responden menjelaskan 93,7 % remaja pernah berciuman hingga petting(bercumbu),
62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan, 21,2 % remaja SMA pernah aborsi.
Wow. Zaman semakin terbalik. Dunia “dewasa” menjadi ritual biasa bagi
remaja di zaman ini. Sebagai praktisi pendidikan penulis sering
menjelaskan pada rekan pendidik yang lain bahwa remaja sekarang telah
“mencuri” rahasia orang dewasa. Dalam HP blackbeery dan jenis
HP multimedia lainnya seorang remaja dapat mengakses apapun. HP
ditangannya menjadi “syeitan” elektrik yang mampu menghadirkan adegan
maya. Tubuh yang sedang berkembang, ditemani rekan-rekan seusia yang
sama-sam labil, lengkaplah sudah “simulasi” mereka.
Keingintahuan
remaja yang kuat akan menjebaknya dalam adiksi negatif yang muncul dari
HP multimedianya. Tidak heran remaja sekarang begitu asyik dan tak
peduli dengan sekitar, karena HP lebih “dahsyat” dari lingkungan
sekitarnya. Sensasi HP menjadi bagian terpenting semua remaja di zaman
ini. HP telah menjadi “Tuhan” baru bagi remaja di zaman ini. Hal-hal
yang diangap sakral oleh orang tua, diangapnya tradisional dan tak harus
diikuti. Berpacaran menjadi hal biasa. Sebutan pacar/kabogoh berubah
menjadi “suamiku” atau “istriku”. Sebuah bahasa gaul remaja kini yang
telah mencoba menegasikan kesakralan arti sebuah pernikahan. Mereka
berpikir menikmati “sesuatu” tidak harus nanti, hari ini saja. Mereka
generasi anti menunggu, senang menerabas, pragmatis, gak suka
berpikir nanti, anti proses dan berani merusak diri sendiri. Orang tua
tertipu, guru terbohongi dan hanya teman dekatnya yang tahu segalanya.
Mendidik
anak di zaman ini serba salah, dengan pendekatan pedagogi mereka
seperti sudah dewasa, pendekatan andragogi salah juga karena mereka
bukan orang dewasa. Pelajar zaman ini ibarat tanaman plastik.
Mendidiknya seperti menyiramkan air pada tanaman plastik. Tidak banyak
menempel dan tak mau menyerap. Kesakralan orang tua, guru dan lembaga
pendidikan semakin pudar. Sementara pengaruh dunia luar semakin kuat,
seperti api yang mau melelehkan tanaman plastik.
Ramenya
pembelian kondom oleh komunitas remaja Ciamis menjelang libur
sekolah, mengindikasikan adanya trend baru. Trend penggunaan alat
pengaman dalam melakukan sex bebas. Ritual menjelang liburan yang
menggejala pada remaja kita. Menurut penulis, ini adalah sisi negatif
dari bebasnya akses dunia maya, baik di warnet ataupun di HPnya. Dunia
maya adalah dimensi luas dan serba bebas yang akan mendorong remaja
untuk menjelajahnya. Dunia nyata dan teman remajanya adalah wadah nyata
untuk mengekspresikan fantasi dan imajinasi negatif yang di-guide dari dunia maya.
Zaman
ini sudah tak perlu syaitan sebagai penggoda remaja untuk melakukan sex
bebas. Karena pendidikan manja orang tua sudah memberikan akses. Uang
yang cukup, kendaraan, HP dan pengawasan yang longgar so modern, telah
memberikan fasilitas yang cukup untuk tumbuhnya hidup lebih dinamis dan
“bebas.” Hedonisme dan pragmatisme telah menjadikan remaja masa
kini terjebak dalam area hedon yang tak memberikannya kesempatan untuk
merenung dan memaknai bagaimana sebenarnya kehidupan ini mesti dijalani.
HP dan
kondom menjadi bagian dari gaya hidup remaja. HP untuk komunikasi,
kondom untuk proteksi. Paduan yang “menakjubkan.” HP ditenteng dengan
gaya, kondom disembunyikan dengan rapih. HP dan kondom menjadi industri
baru yang prospektif. “Durex international of quality condom”
begitu meyakinkan dalam iklan TV.Iklan pengunaan kondom di televisi
telah menjadi justifikasi kehidupan sex bebas bagi remaja. Iklan kondom
sepertinya melegalitas sex bebas bagi remaja. Apa sebenarnya tujuan dari
gencarnya sebuah ajakan memakai kondom. Mencegah AIDS atau melegalkan
aktifitas sex diluar nikah? Atau bisnis kondom. Wah gawat!
Lebih gawat bila suatu
saat akan ada iklan HP dengan kondom. Beli HP dapat 10 kondom dengan
berbagai rasa. Atau jangan-jangan kondom yang hari ini banyak dijual di
mini market, suatu saat ketika dunia remaja makin bebas tak terkendali
akan di jual dikantin sekolah. Zaman ini mafia narkoba dikendalikan dan
beredar di Lembaga Pemasyarakatan, suatu saat mafia kondom beredar di
sekolahan. Semoga hal ini tidak pernah terjadi. Mari memahami remaja
kita dengan bijak. Mari menjadi orang tua yang baik. Tidak menutup kemungkinan suatu saat ada pelajaran khusus sex education di jenjang SMP dan SMA, mengingat zaman makin mundur dalam kemajuan dan makin maju dalam kemunduran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar