Minggu, 31 Agustus 2014

larangan sexs sual dikalangan pelajar


“Tren muda-mudi saat ini berhubungan seksual diluar pernikahan, semakin muda dan dini, jalan satu-satunya yakni meningkatkan pengetahuan yang cukup untuk ilmu reproduksi, agar nantinya remaja mengetahui dan paham bagaimana resiko pernikahan dini,” ujar Plt. Kepala BKKBN, DR. Sudibyo Alimoeso, MA dalam diskusi dengan Ketua PBNU, KH Said Agil tentang ‘Pandangan Tokoh Agama/Tokoh Masyarakat, Pesantren Terhadap Kehidupan Sex Di kalangan Remaja’ di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Februari 2013. (www.okezone.com)
Menurut data BKKBN, sejumlah 20,9 persen remaja putri hamil diluar nikah. Ini jelas merupakan angka yang cukup tinggi, yang mana secara hitung-hitungan berarti diantara 5 remaja putri terdapat 1 orang yang hamil diluar nikah, atau 4 berbanding 1.
Kesalahan bisa saja dialamatkan ke para orangtua yang sangat sibuk sehingga tak punya waktu memberi perhatian dan pengawasan terhadap remaja putrinya. Namun sebenarnya terdapat beberapa faktor lain yang menjadi pemicu hubungan sex bebas pra nikah, misalnya: Lingkungan pergaulan baik di rumah, diluar rumah dan sekolah. 
Kemudian pengaruh dari tontonan yang tidak edukatif yang kemudian dijadikan tuntunan. Tak sedikit tontonan media massa audio visual; televisi, yang menayangkan tontonan berupa sinetron remaja yang tak mendidik yang kemudian ditiru atau minimal melakukan coba-coba yang akhirnya keterusan.
Selain itu kita tak memungkiri keberadaan peralatan (gadget) canggih yang fungsinya tidak saja untuk berkomunikasi, tapi juga mengakses situs-situs porno lalu kemudian menyimpannya untuk dijadikan tontonan.
Tudingan terhadap situs-situs sosial media seperti Facebook, Twitter, dan sejenisnya, juga menjadi sah saja kita lakukan, karena sudah bukan rahasia bila halaman sosial media itu juga digunakan untuk menayangkan pronografi dan pornoaksi.
Jika hari ini terdapat data 20,9 persen remaja putri hamil diluar nikah, tak menutup kemungkinan tahun-tahun ke depannya angka data itu terus meningkat.

Perilaku Seks Remaja yang Bikin Merinding


Survey terhadap kehidupan sex remaja usia 15-25 tahun yang dilakukan oleh Darmendra Kumar Tiagi Indonesia, sungguh menunjukkan hasil yang sangat menyesakkan dada. Bagaimana tidak, dari 663 responden ada 462 yang mengaku pernah melakukan hubungan sex. Kalau dipersentasekan sudah mendekati 70 %.Kemudian yang membuat merinding dan dada semakin sesak adalah pernyataan mereka yang mengatakan bahwa yang mereka takutkan dalam melakukan hubungan sex adalah takut hamil, bukan takut melanggar norma agama atau takut berdosa.
Dapat dibayangkan, kalau yang ditakutkan hanyalah takut hamil tentu ketakutan ini sangat mudah disiasati. Alat “anti hamil” secara mudah bisa dibeli di warung-warung dengan harga sangat murah. Dengan uang Rp. 5000,- remaja kita sudah bisa membeli 3 buah kondom dengan kualitas cukup ampuh untuk mencegah hamil. Lalu, tidak akan ada lagi rasa takut bagi remaja untuk melakukan hubungan sex diluar nikah.
Bagaimana dengan dosa? Ya, sudah sejak lama masalah dosa dikesampingkan. Umumnya kita sudah tidak takut lagi dengan ancaman-ancaman yang diyakini dalam agama itu. Padahal dalam agama apapun, masalah sex diatur secara ketat. 
Penyimpangan-penyimpangan atau pelanggaran terhadap aturan ini diancam dengan sanksi yang cukup berat. 
Khusus dalam agama Islam, hubungan sex hanya dibolehkan oleh pasangan suami isteri yang sah, selain dari itu seperti hubungan sex diluar pernikahan dikatagorikan perbuatan zina. 
Para pelaku zina dikatagorikan sebagai pelaku dosa besar yang diancam dengan siksa yang berat. 
Bahkan sanksi bagi pelaku zina tidak hanya terbatas pada ancaman siksa di alam akherat, ancaman hukumannya sudah ditetapkan dan diberlakukan di dunia. 
Untuk pelaku zina yang masih berstatus perjaka dan gadis mereka dikenakan sanksi hukuman cambuk sebanyak seratus kali ditambah pengasingan dari kehidupan sosial asalnya selama 2 dua tahun. 
Sedangkan untuk pelaku zina yang sudah pernah menikah sebelumnya, artinya ia melakukan perselingkuhan dengan pihak ketiga, maka ia diancam dengan hukuman yang lebih berat, dihukum rajam (dilempari dengan batu hingga mati).
Mungkin ada sesuatu yang salah dalam mempelajari agama, atau dalam menanamkan kesadaran beragama. Sehingga dalam banyak kasus pelanggaran terhadap norma agama, para pelakunya tidak pernah merasa bersalah apalagi takut berdosa. Tentunya termasuk dengan para remaja kita yang akhirnya secara sadar sengaja melakukan hubungan sex diluar nikah tanpa ada rasa bersalah atau takut berdosa.

Remaja antara Handphone dan Kondom


Dudung Koswara, M.Pd
Membaca Radar Sukabumi (4/12/2011) dengan judul, “Libur Sekolah Kondom Laku Keras.” Dijelaskan diantaranya siswa SMP dan SMA di Ciamis menjadi pelanggan kondom di Apotek Rahayu jalan Ampera No 37. Berita ini membuat penulis terdorong untuk menulis kembali seputar remaja kita. Setiap zaman akan bersahabat atau memangsa anak zamannya. Fenomena kenakalan remaja makin hari makin meningkat. Tawuran tak pernah berhenti, vandalism terus bertambah, narkoba mengancam, sex bebas membumi tersembunyi, aborsi masih terjadi, membolos sekolah membudaya, kabur dari rumah dan tak mau belajar menjadi bagian tak terpisahkan dari remaja kita. Zaman makin aneh dan serba mengejutkan.
Pada tulisan kali ini penulis akan lebih mengkaji tentang sex bebas remaja kita. Mengapa semakin meningkat? Dimana fungsi pendidikan keluarga, sekolah, pendidikan agama dan budi pekerti? Bagi remaja yang nakal, semua pola pendidikan sepertinya mandul dan tak membekas. Siapa yang salah? Yang salah adalah kita, para orang tua. Bila pendidikan orang tua tidak benar-benar maksimal maka resikonya akan sangat berat. Akan banyak lahir generasi “impoten” dalam menghadapi era persaingan padahal seharusnya menjadi generasi kompeten. Mampu bersaing, adaptif dan mandiri.
Generasi impoten ini, telah layu sebelum berkembang. Potensinya menjadi bermasalah karena lingkungan dan pergaulan yang kian bebas. Orang tua yang sibuk mencari nafkah, telah melenyapkan waktu berharga bagi remaja untuk meyerap keteladanan orang tua. Lingkungan dan teman sebaya menjadi orang tua baru yang mensponsori hidup bebas serta menjanjikan sensasi. Dari sekian sensasi yang telah menjeratnya, diantaranya adalah sex bebas. Mulai dari ingin tahu, kemudian berkembang menjadi fantasi, selanjutnya menjadi obsesi, mencoba atraksi dan kemudian menjadi adiksi.
Hasil survey Komnas Anak tahun 2007 di 12 provinsi, dari 4500 responden menjelaskan 93,7 % remaja pernah berciuman hingga petting(bercumbu), 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan, 21,2 % remaja SMA pernah aborsi. Wow. Zaman semakin terbalik. Dunia “dewasa” menjadi ritual biasa bagi remaja di zaman ini. Sebagai praktisi pendidikan penulis sering menjelaskan pada rekan pendidik yang lain bahwa remaja sekarang telah “mencuri” rahasia orang dewasa. Dalam HP blackbeery dan jenis HP multimedia lainnya seorang remaja dapat mengakses apapun. HP ditangannya menjadi “syeitan” elektrik yang mampu menghadirkan adegan maya. Tubuh yang sedang berkembang, ditemani rekan-rekan seusia yang sama-sam labil, lengkaplah sudah “simulasi” mereka.
Keingintahuan remaja yang kuat akan menjebaknya dalam adiksi negatif yang muncul dari HP multimedianya. Tidak heran remaja sekarang begitu asyik dan tak peduli dengan sekitar, karena HP lebih “dahsyat” dari lingkungan sekitarnya. Sensasi HP menjadi bagian terpenting semua remaja di zaman ini. HP telah menjadi “Tuhan” baru bagi remaja di zaman ini. Hal-hal yang diangap sakral oleh orang tua, diangapnya tradisional dan tak harus diikuti. Berpacaran menjadi hal biasa. Sebutan pacar/kabogoh berubah menjadi “suamiku” atau “istriku”. Sebuah bahasa gaul remaja kini yang telah mencoba menegasikan kesakralan arti sebuah pernikahan. Mereka berpikir menikmati “sesuatu” tidak harus nanti, hari ini saja. Mereka generasi anti menunggu, senang menerabas, pragmatis, gak suka berpikir nanti, anti proses dan berani merusak diri sendiri. Orang tua tertipu, guru terbohongi dan hanya teman dekatnya yang tahu segalanya.
Mendidik anak di zaman ini serba salah, dengan pendekatan pedagogi mereka seperti sudah dewasa, pendekatan andragogi salah juga karena mereka bukan orang dewasa. Pelajar zaman ini ibarat tanaman plastik. Mendidiknya seperti menyiramkan air pada tanaman plastik. Tidak banyak menempel dan tak mau menyerap. Kesakralan orang tua, guru dan lembaga pendidikan semakin pudar. Sementara pengaruh dunia luar semakin kuat, seperti api yang mau melelehkan tanaman plastik.
Ramenya pembelian kondom oleh komunitas remaja Ciamis menjelang libur sekolah, mengindikasikan adanya trend baru. Trend penggunaan alat pengaman dalam melakukan sex bebas. Ritual menjelang liburan yang menggejala pada remaja kita. Menurut penulis, ini adalah sisi negatif dari bebasnya akses dunia maya, baik di warnet ataupun di HPnya. Dunia maya adalah dimensi luas dan serba bebas yang akan mendorong remaja untuk menjelajahnya. Dunia nyata dan teman remajanya adalah wadah nyata untuk mengekspresikan fantasi dan imajinasi negatif yang di-guide dari dunia maya.
Zaman ini sudah tak perlu syaitan sebagai penggoda remaja untuk melakukan sex bebas. Karena pendidikan manja orang tua sudah memberikan akses. Uang yang cukup, kendaraan, HP dan pengawasan yang longgar so modern, telah memberikan fasilitas yang cukup untuk tumbuhnya hidup lebih dinamis dan “bebas.” Hedonisme dan pragmatisme telah menjadikan remaja masa kini terjebak dalam area hedon yang tak memberikannya kesempatan untuk merenung dan memaknai bagaimana sebenarnya kehidupan ini mesti dijalani.
HP dan kondom menjadi bagian dari gaya hidup remaja. HP untuk komunikasi, kondom untuk proteksi. Paduan yang “menakjubkan.” HP ditenteng dengan gaya, kondom disembunyikan dengan rapih. HP dan kondom menjadi industri baru yang prospektif. “Durex international of quality condom” begitu meyakinkan dalam iklan TV.Iklan pengunaan kondom di televisi telah menjadi justifikasi kehidupan sex bebas bagi remaja. Iklan kondom sepertinya melegalitas sex bebas bagi remaja. Apa sebenarnya tujuan dari gencarnya sebuah ajakan memakai kondom. Mencegah AIDS atau melegalkan aktifitas sex diluar nikah? Atau bisnis kondom. Wah gawat!
Lebih gawat bila suatu saat akan ada iklan HP dengan kondom. Beli HP dapat 10 kondom dengan berbagai rasa. Atau jangan-jangan kondom yang hari ini banyak dijual di mini market, suatu saat ketika dunia remaja makin bebas tak terkendali akan di jual dikantin sekolah. Zaman ini mafia narkoba dikendalikan dan beredar di Lembaga Pemasyarakatan, suatu saat mafia kondom beredar di sekolahan. Semoga hal ini tidak pernah terjadi. Mari memahami remaja kita dengan bijak. Mari menjadi orang tua yang baik. Tidak menutup kemungkinan suatu saat ada pelajaran khusus sex education di jenjang SMP dan SMA, mengingat zaman makin mundur dalam kemajuan dan makin maju dalam kemunduran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar